Revisi Makalah
KRITERIA
KEBENARAN
Disusun
untuk memenuhi salah satu tugas
Mata
Kuliah : FILSAFAT ILMU
Dosen
Pengampu : Dr. SYARIFUDDIN, M.Ag.

Disusun Oleh
AHMAD ADITIA
NIM : 1702130143
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI PALANGKA RAYA
FAKULTAS SYARIAH
PROGRAM STUDI HUKUM EKONOMI SYARIAH
TAHUN 1439 H/2018 M
FAKULTAS SYARIAH
PROGRAM STUDI HUKUM EKONOMI SYARIAH
TAHUN 1439 H/2018 M
DAFTAR
ISI
Cover
Daftar
Isi........................................................................................................................ i
Kata
Pengantar............................................................................................................. ii
BAB
I Pendahuluan
Latar
Belakang.............................................................................................................. 1
Rumusan
Masalah......................................................................................................... 2
Tujuan........................................................................................................................... 2
BAB
II Pembahasan
A. Pengertian
kebenaran ilmiah.................................................................................. 3
B. Teori-teori Kebenaran ........................................................................................... 4
C. Sifat Kebenaran Ilmiah.......................................................................................... 6
D. Agama sebagai teori kebenaran ............................................................................ 7
E.
Kebenaran ilmiah dari sudut pandang
Subjektifitas ............................................. 8
F.
Kebenaran ilmiah dari dudut pandang
Objektifitas ............................................. 9
BAB
III Penutup
Kesimpulan................................................................................................................. 11
DAFTAR
PUSTAKA
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum
Wr.Wb
Segala puji bagi Allah SWT , yang
telah menciptakan manusia sebagai khalifah dan menjadikan manusia sebagai
makhluk dengan akal yang dianugerahkan agar manusia bisa berfikir dan bertindak
rasional. Berkat pertolongan Allah SWT yang senantiasa melimpahkan rahmat dan
hidayah-Nya, akhirnya penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Kriteria Kebenaran“. Tujuan pembuatan
makalah ini antara lain untuk melengkapi salah satu tugas mata kuliah Filsafat Ilmu
Penulis
mengucapkan terima kasih kepada Bapak Dr. Syarifuddin, M.Ag. selaku dosen
pembimbing mata kuliah dan teman-teman yang memberi semangat atas terbentuknya
makalah ini. Penulis berharap makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis
khususnya dan terutama pembaca pada umumnya. Penulis juga menyadari bahwa
makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, untuk itu kritik dan saran dari
pembaca sangat penulis harapkan untuk kesempurnaan makalah ini.
Apabila dalam penyusunan makalah ini
terdapat kekeliruan dan kesalahan, kami sebagai penulis mohon maaf. Karena sesuatu
yang benar adalah dari Allah SWT, sedangkan sebuah kekhilafan adalah dari diri
penulis sendiri. Akhir kata, kami mengucapkan terima kasih.
Wassalamu’alaikum
Wr.Wb.
Palangka
Raya, Mei 2018
Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang Masalah
Dalam lintas sejarah, manusia dalam
kehidupannya senantiasa disibukkan oleh berbagai pernyataan mendasar tentang
dirinya. Berbagai jawaban yang bersifat spekulatif coba diajukan oleh para
pemikir sepanjang sejarah dan terkadang jawaban-jawaban yang diajukan saling
kontradiktif satu dengan yang lainnya. Perdebatan mendasar yang sering menjadi
bahan diskusi dalam sejarah kehidupan manusia adalah perdebatan seputar sumber
dan asal usul pengetahuan dan kebenaran.
Manusia selalu berusaha menemukan
kebenaran, beberapa cara ditempuh untuk memenuhi kebenaran antara lain dengan
menggunakan rasio seperti para rasionalis dan melalui pengalaman atau secara
empiris. Pengalaman-pengalaman yang diperoleh manusia membuat prinsip-prinsip
yang lewat penalaran rasional agar kejadian-kejadian yang berlaku di alam itu
dapat dimengerti.
Proses pencarian kebenaran tentu
bukan hal yang mudah dan dapat dikatakan merupakan proses yang sangat
melelahkan bahkan bukan tidak mungkin akan mendatangkan keputusan. Sering kali
dengan dalih sebuah kebenaran seseorang atau kelompok akan menghalalkan
tindakan terhadap orang lain karena dianggap sudah melakukan tindakan yang
benar.
Kebenaran tidak mungkin berdiri
sendiri jika tidak ditopang dengan dasar-dasar penunjangan, baik pernyataan,
teori keterkaitan, konsistensi, keterukuran, dapat dibuktikan, berfungsi, dan
bersifat netral atau tidak netral, bahkan apakah kebenaran bersifat tentatif
atau sepanjang masa?
Untuk mengetahui hal itu pemakalah
akan membahas seputar kriteria kebenaran ilmiah berserta dengan teori-teori
digunakan untuk menguji kebenaran ilmiah.
B. Rumusan
Masalah
Dalam makalah ini ada beberapa
masalah yang akan dibahas, agar pembahasan dalam makalah ini tidak jauh dari
judulnya, baiknya kita rumuskan masalah-masalah yang akan dibahas, antara lain
:
1.
Pengertian
kebenaran ilmiah
2.
Teori-teori
kebenaran
3.
Sifat
kebenaran ilmiah
4.
Agama
sebagai teori kebenaran
5.
Kebenaran
ilmiah dari sudut pandang Subjektifitas
6.
Kebenaran
ilmiah dari dudut pandang Objektifitas
C. Tujuan
1.
Untuk
mengetahui pengertian kebenaran ilmiah
2.
Untuk
mengetahui teori-teori kebenaran
3.
Untuk
mengetahui sifat kebenaran ilmiah
4.
Untuk
mengatahui agama sebagai teori kebenaran ilmiah
5.
Untuk
mengatahui kebenaran ilmiah dari sudut pandang Subjektifitas
6.
Untuk
mengetahui kebenran ilmiah dari sudut pandang Objektifitas
BAB II
PEMBAHASAN
1. Pengertian
Kebenaran Ilmiah
Kebenaran adalah satu nilai utama
didalam kehidupan manusia. Sebagai nilai-nilai yang menjadi fungsi rohani
manusia. Artinya sifat manusia atau martabat manusia selalu berusaha memeluk
suatu kebenaran. Berbicara tentang kebenaran ilmiah, tidak bisa dipisahkan dari
makna dan fungsi ilmu itu sendiri, sejauh mana dapat digunakan dan dimanfaatkan
oleh manusia. Disamping itu, proses untuk mendapatkan haruslah melalui
tahap-tahap metode ilmiah.
Tentang kebenaran ini, plato pernah
berkata : apakah kebenaran itu? lalu pada waktu yang tak bersamaan, bahkan jauh
belakangan Bradley menjawab: “kebenaran itu adalah kenyataan” tetapi bukanlah
kenyataan itu tidak selalu yang seharusnya terjadi. Kenyataan yang terjadi bisa
saja berbentuk ketidak benaran atau keburukan. Jadi ada dua pengertian
kebenaran, yaitu kebenaran yang berarti nyata-nyata terjadi disatu pihak, dan
kebenaran dalam arti lawan dari keburukan atau ketidak benaran.[1]
Dalam bahasan ini, makna kebenaran
dibatasi pada kekhususan makna kebenaran keilmuan (ilmiah). Kebenaran ini
mutlak dan tidak sama atau pun kekal, melainkan bersifat relatif, sementara,
dan hanya merupakan pendekatan. Kebenaran intelektual yang ada pada ilmu
bukanlah suatu efek dari keterlibatan ilmu dengan bidang-bidang kehidupan.
kebenaran merupakan ciri asli dari ilmu itu sendiri.
Selaras dengan Poedjawiyatna yang
mengatakan bahwa persesuaian antara pengetahuan dan obyeknya itulah yang
disebut kebenaran. Artinya pengetahuan itu harus yang dengan aspek obyek yang
diketahui. Jadi pengetahuan benar adalah pengetahuan obyektif.[2]
Lalu, apa yang dimaksud dengan ilmiah?
Dalam kamus dijelakan ilmiah berasal dari kata ilmu artinya pengetahuan.
Namun, dalam kajian filsafat antara ilmu dan pengetahuan dibedakan. Pengetahuan
bukan ilmu, tetapi ilmu merupakan akumulasi pengetahuan. Sedangkan yang
dimaksud ilmiah adalah pengetahuan yang didasarkan atas terpenuhinya
syarat-syarat ilmiah, terutama menyangkut teori yang menunjang dan sesuai
dengan bukti.
Jadi yang dimaksud dengan kebenaran
ilmiah adalah kesesuaian antara pengetahuan dengan objek kesesuian ini didukung
dengan syarat-syarat tertentu yang oleh jujun S.Sumantri disebut dengan
metode-metode, juga didukung dengan teori yang menunjang dan sesuai dengan
bukti. Kebenaran ilmiah divalidasi dengan bukti-bukti empiris yaitu
hasil pengukuran objektif dilapangan. Sifat objektif berlaku umum dapat diulang
melalui eksperimen, cenderung amoral sesuai apa adanya. bukan apa yang
seharusnya yang merupakan ciri ilmu pengetahuan.
2. Teori-Teori
Kebenaran
Ilmu pengetahuan terkait erat dengan
pencarian kebenaran, yakni kebenaran ilmiah. Ada banyak yang termasuk
pengetahuan manusia, namun tidak semua hal itu langsung kita golongkan sebagai
ilmu pengetahuan. Hanya pengetahuan tertentu yang diperoleh dari kegiatan
ilmiah, dengan metode sistematis, melalui penelitian analisis dan pengujian
data secara ilmiah yang dapat kita sebut sebagai ilmu pengetahuan. Dalam
sejarah filsafat, terdapat beberapa teori tentang kebenaran antara lain :
1)
Teori
Kebenaran Korespondensi(penyesuaian)
Adalah teori
yang berpandangan bahwa pernyataan-pernyataan adalah benar jika
berkorespondensi (berhubungan) terhadap fakta yang ada. Kebenaran atau suatu
keadaan dikatakan benar jika ada kesesuaian antara arti yang dimaksud oleh
suatu pendapat dengan fakta. Teori ini sering diasosiasikan dengan teori-teori
empiris pengetahuan.
Ujian
kebenaran yang didasarkan atas teori korespondensi paling diterima secara luas
oleh kelompok realis. Menurut teori ini, kebenaran adalah kesetiaan kepada
realita obyektif(fidelity to objective reality). Kebenaran adalah persesuaian
antara pernyataan tentang fakta dan fakta itu sendiri, atau antara
pertimbangan(judgement) dan situasi yang dijadikan pertimbangan itu,serta
berusaha untuk melukiskannya, karena Kebenaran mempunyai hubungan erat dengan
pernyataan atau pemberitaan yang kita lakukan tentang sesuatu. (Titus,1987:237)
Jadi secara
sederhana dapat disimpulkan bahwa berdasarkan teori korespondensi suatu
pernyataan adalah benar jika materi pengetahuan yang dikandung pernyataan itu
berkorespondensi(berhubungan) dan sesuai dengan obyek yang dituju oleh
pernyataan tersebut(susiasumantri, 1990:57). Misalnya jika seseorang mengatakan
“Matahari terbit dari Timur” maka pernyataan itu adalah benar sebab pernyataan
tersebut bersifat faktual atau sesuai dengan fakta yang ada bahwa Matahari
terbit dari timur dan tenggelam diufuk barat.
2)
Teori
Koherensi atau konsistensi
Berdasarkan
teori ini suatu pernyataan dianggap benar bila pernyataan itu bersifat koheren
atau konsisten dengan pernyataan sebelumnya yang dianggap benar. Artinya
pertimbangan adalah benar jika pertimbangan itu bersifat konsisten dengan
pertimbangan lain yang telah diterima kebenarannya, yaitu menurut logika.
Misalnya,
bila kita menganggap bahwa “maksiat perbuatan yang dilarang oleh Allah” adalah
suatu pernyataan yang benar. Maka pernyataan bahwa “mencuri perbuatan maksiat,
maka mencuri dilarang oleh Allah” adalah benar pula, sebab pernyataan
kedua konsisten dengan pernyataan yang pertama.
3)
Teori
Pragmatik
Adalah teori
yang berpandangan bahwa arti dari ide dibatasi oleh referensi pada konsekuensi
ilmiah, personal atau sosial. Benar tidaknya suatu teori tergantung pada peran
fungsi teori tersebut bagi manusia untuk kehidupannya dalam lingkup ruang waktu
tertentu. Teori ini juga dikenal dengan teori problem solving, artinya teori
yang dengan itu dapat memecahkan segala aspek permasalahan.
Kebenaran
suatu pernyataan harus bersifat fungsional dalam kehidupan praktis. Apa yang
diartikan dengan benar adalah yang berguna (useful) dan yang diartikan salah
adalah yang tidak berguna(useless). Bagi para pragmatis, ujian kebenaran adalah
kegunaan(utility), dapat dikerjakan (Workability) dan akibat atau pengaruhnya
yang memuaskan.
Misalnya,
seiring perkembangan zaman, teknologi pun semakin canggih. Para ilmuan menemukan
teknologi-teknologi baru untuk mempermudah pekerjaan manusia, telepon genggam
berupa smartphone contohnya. Penemuan dan pengaplikasian smartphone tersebut
dikatakan benar karena dapat berguna untuk mempermudahkan pekerjaan manusia.
4)
Teori Performatif
Teori ini
menyatakan bahwa kebenaran diputuskan atau dikemukakan oleh pemegang otoritas
tertentu. Misalnya mengenai penetapan 1 syawal. Sebagian muslim di indonesia
mengikuti fatwa atau keputusan MUI. Sedangkan sebagian yang lain mengikuti fatwa
ulama tertentu atau organisasi tertentu.
Dalam fase
hidupnya, manusia kadang kala harus mengikuti kebenaran performatif. Pemegang
otoritas yang menjadi rujukan bisa pemerintah, pemimpin agama, pemimpin adat,
dan pemimpin masyarakat. Kebenaran performatif dapat membawa kehidupan sosial
yang rukun, kehidupan beragama yang tertib, adat yang stabil dan sebagainya.
Masyarakat
yang mengikuti kebenaran performatif tidak bisa berpikir kritis dan rasional.
Mereka kurang inisiatif dan inovatif, karena terbiasa mengikuti kebenaran dari
pemegang otoritas. Pada beberapa daerah yang masyarakatnya masih sangat patuh
pada adat, kebenaran ini seakan akan kebenaran mutlak. Mereka tidak berani
melanggar keputusan pemimpin adat dan tidak terbiasa menggunakan rasio untuk mencari
kebenaran.
3. Sifat
Kebenaran Ilmiah
Kebenaran ilmiah menurut konrad
kebung paling tidak memilik tiga yaitu: struktur kebenaran ilmiah bersifat
rasional-logis, isi empiris, dan sifat pragmatis.
1)
Struktur
yang rasional-logis
Kebenaran dapat dicapai berdasarkan
kesimpulan logis atau rasional dari proposisi atau premis tertentu. Karena
kebenaran ilmiah bersifat rasional maka semua orang yang rasional (yaitu yang
dapat menggunakan akal budinya secara baik). Dapat memahami kebenaran ilmiah.
Oleh sebab itu kebenaran ilmiah kemudian dianggap sebagai kebenaran universal.
Sifat rasional (rationality) harus
dibedakan dengan sifat masuk akal (reasonable). Sifat rasional terutama berlaku
untuk kebenaran ilmiah sedangkan masuk akal biasanya berlaku bagi kebenaran
tertentu diluar lingkup pengetahuan. Contohnya: tindakan marah dan menangis
atau semacamnya, dapat dikatakan masuk akal sekalipun tindakan tersebut mungkin
tidak rasional.
2)
Isi empiris
Kebenaran
ilmiah perlu diuji kenyataannya yang ada. Bahkan sebagian besar pengetahuan dan
kebenaran ilmiah. Berkaitan dengan kenyataan empiris di alam ini. Spekulasi
tetap ada namun sampai tingkat tertentu spekulasi itu bisa dibayangkan sebagai
nyata atau tidak karena sekalipun sesuatu pernyataan dianggap benar secara
logis, perlu dicek apakah pernyataan tersebut juga benar secara empiris.
3)
Isi pragmatisme (dapat diterapkan).
Sifat ini
berusaha menggabungkan kedua sifat kebenaran sebelumnya (logis dan empiris).
Maksudnya jika suatu pernyataan “benar” dinyatakan “benar” secara logis dan
empiris maka pernyataan tersebut juga harus berguna bagi kehidupan manusia,
berguna berarti dapat untuk membantu manusia memecahkan berbagai persoalan
dalam hidupnya.[3]
4. Agama sebagai Teori Kebenaran
Manusia adalah
mahluk pencari kebenaran, salah satu cara untuk menemukan suatu kebenaran
adalah melalui agama. Agama dengan karakteristiknya sendiri memberikan jawaban
atas segala persoalan asasi yang dipertanyakan manusia, baik tentang alam,
manusia maupun tentang tuhan. Kalau ketiga teori kebenaran sebelumnya lebih
mengedepankan akal,budi,rasio, dan reason manusia maka dalam teori ini lebih
mengedepankan wahyu yang bersumber dari Tuhan.
Penalaran dalam
mencapai ilmu pengetahuan yang benar dengan berfikir setelah melakukan
penyelidikan dan pengalaman. Sedangkan manusia mencari dan menentukan kebenaran
sesuatu dalam agama dengan jalan mempertanyakan atau mencari jawaban tentang
masalah asasi dari atau kepada kitab suci, dengan demikian suatu hal itu
dianggap benar apabila sesuai dengan ajaran agama atau wahyu sebagai penentu
kebenaran mutlak. Agama dan kitab suci dan haditsnya dapat memberikan jawaban
atas segala persoalan manusia, termasuk kebenaran.
5. Kebenaran
Ilmiah dari Sudut Pandang Subjektifitas
Telah diketahui kebenaran ilmiah
adalah kebenaran yang ditandai oleh terpenuhinya syarat-syarat ilmiah terutama
menyangkut adanya teori yang menunjang serta sesuai dengan bukti. Kebenaran
ilmiah divalidasi oleh bukti-bukti empiris yaitu hasil pengukuran objektif
dilapangan.
Sifat setiap ilmu adalah
diidentikkan dengan dua teori yaitu “subjektifitas” dan “objektifitas” subjek
berkaitan dengan seseorang atau pribadi. Subjektif berkaitan erat dengan
keakuan. Dalam hal filsafat subjektif berkaitan dalam segala hal, kesadaran
manusia menjadi tolak ukur, eksistensi, makna dan validitasnya.[4]
Dari penjelasan di atas bahwa
“subjektif” menghendaki peranan penting dari setiap pribadi yang menilai
sendiri tentang kebenaran, artinya sesuatu dipandang benar jika didasarkan pada
pribadi atau manusia yang menilai tentang sesuatu itu. Kebenaran tolak ukurnya
dalah berdasarkan subjek, namun hal semacam ini apakah berlaku bagi kebenaran
ilmiah? Sedangkan kebenaran ilmiah sangat identik dengan syarat-syarat ilmiah
menyangkut teori yang menunjang dan sesuai dengan bukti, yang ditujang oleh
rasio dan divalidasi dengan data empirik.
Seperti yang dikatakan jujun S.
Sumantri kebenaran ilmiah harus didahului oleh cara yang disebut metode ilmiah.
Metode merupakan ekspresi mengenai cara bekerja pikiran. Metode Ilmiah adalah
cara menetapkan prinsip-prinsip logis terhadap penemuan, pengesahan, dan
penjelasan kebenaran, juga dapat diartikan bahwa metode ilmiah adalah
pengejaran terhadap sesuatu untuk memperoleh sesuatu interelasi.
Metode Ilmiah merupakan suatu cara
sistematis yang digunakan oleh para ilmuan untuk memecahkan masalah yang
dihadapi. Metode ini menggunakan langkah-langkah yang sistematis, teratur, dan
terkontrol. Supaya suatu metode yang digunakan dalam penelitian disebut metode
ilmiah, maka metode tersebut harus mempunyai kriteria sebagai berikut:
a.
Berdasarkan
fakta
b.
Bebas dari
paksaan
c.
Menggunakna
prinsip-prinsip analisa
d.
Menggunakan
hipotesa
e.
Menggunakna
ukuran objektif
f.
Menggunakan
teknik kuantifikasi
Dengan cara kerja seperti ini maka
pengetahuan yang dihasilkan diharapkan memiliki karakteristik tertentu yang
diminta oleh pengetahuan ilmiah yaitu sifat rasional dan teruji yang
memungkinkan tubuh pengetahuan yang disusunnya merupakan pengetahuan yang dapat
diandalkan.
Sifat rasional dan teruji bagi
kebenaran ilmiah menghendaki adanya kebenaran hanya sesuatu yang dapat
diakalkan (logiskan) dan dapat teruji. Berarti kebenaran ilmiah sangat menolak
dengan kebenaran mutlak. Sebab kebenaran ini kaitannya dengan kebenaran yang
datang dari tuhan bersumber dari wahyu yang mengikat. Kebenaran yang datang
dari tuhan bersumber dari wahyu yang mengikat. Kebenaran yang rasional dan
teruji akan hanya memaparkan hal-hal empiris.
Jika demikian diatas jawaban
pertanyaan-pertanyaan tersebut. jika dikaitkan dengan penjelasan pengertian
kebenaran ilmiah dari subjektifitas belum dapat diterima karena kebenaran
ilmiah yang bermuara dari subjektifitas tidak jarang menunjukkan bukti atau
tidak sesuai dengan data empirik dan pembuktian nyata berdasarkan dengan rasa
atau pribadi.
Oleh karena itu kebenaran yang
sesungguhnya dalam kajian kebenaran ilmiah adalah kebenaran yang sedikitnya
dipengaruhi oleh unsur subjektifitas.
6. Kebenaran Ilmiah Dari Sudut Pandang Objektifitas
Kebenaran
ilmiah adalah kebenaran yang ditandai oleh terpenuhinya syarat-syarat ilmiah
terutama menyangkut adanya teori yang menunjang serta sesuai dengan bukti.
Kebenaran ilmiah divalidasi oleh bukti-bukti empiris yaitu hasil pengukuran
objektif dilapangan.
Kebenaran
merupakan kesesuaian antara pengetahuan dengan objeknya. Objek adalah sesuatu
yang ihwalnya diketahui atau hendak diketahui suatu objek yang ingin diketahui
memiliki berbagai aspek yang amat sulit untuk diungkapkan. Sedangkan yang
lainnya tetap tersembunyi. Sangat jelas bahwa untuk mengetahui objek secara
lengkap sangat sulit.Objek juga diartikan sebagai sesuatu yang dapat dilihat
secara fisik, disentuh, diindra, sesuatu yang dapat disadari secara fisik atau
mental, suatu tujuan akhir dari kegiatan atau usaha, suatu hal yang menjadi
masalah pokok suatu penyelidik.[5]
Menurut
Langeverld dalam Muhammad In’am Esha objek pengetahuan dibedakan menjadi tiga:
a.
Objek
empiris yaitu objek pengetahuan yang pada dasarnya ada dan dapat ditangkap oleh
indra lahir dan indera batin
b.
Objek ideal
yaitu objek pengetahuan yang pada dasarnya tiada dan menjadi ada berkat akal.
c.
Objek
transendal yaitu objek pengetahuan yang pada dasarnya ada tetapi berada diluar
jangkauan pemikiran dan perasaan manusia.
Pengetahuan adalah tanggapan subjek
terhadap objek yang diketahui dengan demikian tanggapan merupakan penilaian
subjek terhadap objek. Oleh karena itu dalam hal ini kebenaran ada dua sisi:
a.
Benarnya
fakta(bukti) adalah kebenaran objek (diluar dunia)
b.
Benarnya ide
(tanggapan) adalah kebenaran subjek (di dunia luar)
Fakta bersifat objektif, sehingga
fakta tidak dapat disalahkan atau dipersalahkan karena memang demikian adanya
sekalipun negatif. Oleh karena itu ada dua kemungkinan yang terjadi yaitu
faktanya benar dan tanggapan subjek benar dan faktanya benar dan tanggapan
subjek salah. Dalam kebenaran ilmiah apakah kebenaran objektif dapat diterima ?
langeveld menjawab kebenaran yang sesungguhnya tidak lepas dari gabungan subjek
dan objek.
Kebenaran ini ia sebut dengan
kebenaran dasar yaitu ada hubungan antara subjek dan objek. Namun, hal ini juga
dibantah, kebenaran dasar belum mencapai tingkat dijamin ilmiah. lantas jika
kebenaran sifatnya relatif apa gunanya manusia berpengatahuan? Untuk menjawab
pertanyaan ini perlu diingat kembali tentang teori pengetahuan. Teori- teori
itu dapat menjadi acuan bagi kebenran ilmiah.
Inti dari kebenaran ilmiah adalah
penjelasan tentang objek seperti apa adanya tanpa ada pengaruh sedikitpun oleh
keadaan subjek. Objek dijelaskan dibuktikan dengan nyata dalam keadaan tanpa
ada manipulasi atau perubahan tanggapan dari subjek. Jika terjadi manipulasi
maka hal ini jelas keluar dari koridor arti kebenaran bahwa pengetahuan tidak
sesuai dengan keadaan objek, dan ini jelas terjadi kekeliruan yang jelas
pengetahuan ini tidak dapat diterima.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Kebenaran adalah persesuaian antara
pengetahuan dan obyeknya. Artinya pengetahuan itu harus yang dengan aspek obyek
yang diketahui . jika pengetahuan benar adalah pengetahuan obyektif. Sedangkan
yang dimaksud kebenaran ilmiah adalah kebenaran yang sesuai dengan fakta dan
mengandung isi pengetahuan.
Untuk menentukan kepercayaan dari
sesuatu yang dianggap benar, para filosof bersandar kepada tiga cara untuk
menguji kebenaran yaitu koresponden (yakni persamaan dengan fakta), teori
koherensi atau konsistensi dan teori pragmatis. Ketiga teori kebenran ini
kelihatannya tidakbisa dipakai sebagai pedoman untuk mengukur kebenaran
realitas sebagai objek materi pada filsafat ilmu pengetahuan karena
masing-masing mempunyai titik kelemahan. Namun secara ontologis dan
epistemologis tampaknya bisa memberikan jalan keluar bagi pemecahan persoalan
yang muncul dalam realitas itu sendiri.karena ilmu pengetahuan mempunyai aspek
yang etis maka teori koheren, korespondensi, dan pragmatis perlu
dipertimbangkan secara berturut-turut dan bersamaan.
Kebenaran adalah kesesuaian antara
pengetahuan dengan objek. Pengetahuan yang tidak sesuai dengan objek pandang
“keliru”. Objek adalah segala hal yang dapat diraba, disaksikan suatu yang
menjadi kajian. Objek yang dikaji memiliki aspek yang banyak dan sulit
disebutkan dengan serentak. Kenyataannya manusia(subjek) hanya mengetahui
beberapa aspek dari objek.
Kebenaran ilmiah menghendaki adanya
pengetahuan dapat diterima, karena kebenaran ilmiah muncul melalui
syarat-syarat ilmiah, metode ilmiah, didukung teori yang menunjang serta
didasarkan kepada data empiris dan dapat dibuktikan. Sangat rasional jika
kebenran yang semacam ini menghendaki adanya objek dikaji apa adanya tanpa
campur tangan subjek.[6]
DAFTAR PUSTAKA
-
Syafi’i Inu kencana., filsafat Kehidupan (prakata), (Jakarta:Bumi
Aksara,1995)
-
Poedjawijatna I.R., Tahu dan
Pengetahuan, Pengantar Ke Ilmuan dan Filsafat, (Jakarta:Bina Aksara, 1987),hlm.
16.
-
In’am Esha. Muhammd,. Menuju pemikiran Filsafat. UIN Maliki
Press.Malang:2010.Hlm.125.
-
Soetriono,MP, Prof.Dr.Ir.; Hanafi MP, Dr.Ir SRDm Rita. (2007). Filsafat Ilmu Dan Metode
Penelitian. Yogyakarta: Andi Offset
[1]
Inu kencana Syafi’i, filsafat Kehidupan (prakata),
(Jakarta:Bumi Aksara,1995)
[2]
I.R Poedjawijatna, Tahu dan Pengetahuan, Pengantar Ke
Ilmuan dan Filsafat, (Jakarta:Bina Aksara, 1987),hlm. 16.
[4]
Muhammd In’am Esha. Menuju pemikiran Filsafat. UIN
Maliki Press.Malang:2010.Hlm.125.
[6]
Prof.Dr.Ir Soetriono,MP ; Dr.Ir SRDm Rita Hanafi,MP.
(2007). Filsafat Ilmu Dan Metode Penelitian. Yogyakarta: Andi Offset
👍
BalasHapusBermanfaat sekali
BalasHapusAlhamdulillah. Banyak referensi
BalasHapusSemoga bermanfaat. 👍
BalasHapus